Monday, September 21, 2020

Tersadar oleh Sampar

DI ISTANA 

WALIKOTA PERTAMA: Yang Mulia, sampar menyebar sangat cepat sehingga kita tidak punya harapan untuk membasminya. Kontaminasi sudah sangat merebak dibanding yang diperkirakan; namun hamba menyarankan kiranya lebih bijaksana untuk membuat mereka tidak mempedulikannya. Bagaimanapun juga daerah-daerah terpencil  paling parah terkena dampaknya; daerah-daerah ini padat dan dihuni orang-orang miskin. Betapapun tragisnya keadaan ini, ini adalah sesuatu yang patut disyukuri. 

[Gumaman tanda setuju.]

- Albert Camus 

Baris-baris kalimat di atas merupakan cuplikan adegan dan dialog dari drama tiga babak berjudul Sampar. Dipentaskan pertama kali pada 27 Oktober 1948 di Thèâtre Marigny, Paris. L'état de Siège (State of Siege) adalah judul asli lakon yang ditulis oleh filsuf Albert Camus. 

Saya awalnya tidak tahu menahu bahwa buku ini berisi naskah drama. Nama Albert Camus yang sering muncul di beberapa artikel yang saya baca sebelum-sebelumnya membuat saya penasaran dengan tulisan asli beliau. Kebetulan sekali, ada kawan yang meminjamkan Sampar kepada saya sekitar setahun lalu, bersama belasan buku lainnya. Lebih dari sepuluh buku yang dipinjamkan telah saya baca sejak itu sampai sekitar Juli tahun ini. Entah mengapa, Sampar tidak termasuk di sepuluh nomor tersebut. Baru pada penghujung Juli, saya mulai melirik buku setebal 130 halaman ini. 

Pandemi masih berlangsung. Rumah sakit mulai kewalahan menerima pasien, pemakaman khusus korban wabah kian kehabisan lahan. Apa yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi ini? 

Semasa pandemi awal merebak, hari-hari terasa mencekam. Sekarang, setengah tahun berlalu. Waspada tetap ada, namun ketakutan perlahan-lahan mereda. Kemudian, membaca Sampar kembali membangkitkan hawa mencekam itu. 

Sampar menceritakan wabah yang menjangkiti warga Cádiz, Spanyol. Selain digambarkan sebagai sebuah penyakit mematikan yang memberikan tanda, penulis merepresentasikan Sampar sebagai manusia yang mengambil alih kekuasaan pemerintah. Mengubah tatanan masyarakat dengan kehendak yang telah direncanakannya. Menyingkirkan pihak-pihak yang menghalangi perubahan yang diinginkannya. 

Membaca buku ini seperti memutar ulang masa-masa awal wabah menyebar di negeri ini, bahkan di seluruh dunia. Sebuah pandemi yang kini masih harus kita hadapi. Saat membaca, kengerian akibat wabah sampar seolah terasa begitu dekat dan nyata. Respon dan kebijakan pemerintah dalam naskah yang entah bagaimana tampak serupa dengan kondisi saat ini. Sebuah kebetulan. 

Ada banyak adegan dan tuturan yang menampar dengan keras. Reflektif sekaligus satir. Menggedor kesadaran manusia yang carut marut terjangkiti ketakutan. Harapan akan keadaan kembali seperti sedia kala terasa begitu jauh dari kenyataan.

Perlu berjarak saat membaca buku ini supaya tidak terlalu terhanyut, apalagi di tengah pandemi seperti ini. Ia begitu gelap, dan jika tak membawa pelita pikiran yang jernih, berisiko tersesat dalam jalan-jalan yang suram dan muram.

 

Berikut beberapa kutipan pilihan dari buku ini: 

"HAKIM: Biarkan mereka, dan pikirkan saja rumah tangga. Tentang putramu, misalnya. Masukkan semua perbekalan yang dapat diperoleh, dan jangan pikirkan harganya. Kini, sudah saatnya untuk menimbun. Lakukan penimbunan!" (hal. 28) 

"DIEGO: Aku merasa seperti orang-orang, asing terhadap diriku sendiri. Selama ini, aku tidak pernah merasa takut terhadap manusia--namun apa yang terjadi sekarang terlalu besar bagiku. Bahkan kehormatan tidak dapat membantu; aku kehilangan pegangan atas segala sesuatu yang aku anut." (hal. 30)

"SEKRETARIS: Ini dimaksudkan untuk membiasakan mereka dengan sentuhan kekaburan yang memberikan daya tarik dan efektivitas bagi semua peraturan pemerintah. Semakin kurang paham rakyat, akan semakin baik tingkah laku mereka. Kamu paham?" (hal. 39)

"PADUAN SUARA: Penguasa kita dulu berjanji akan melindungi kita, namun sekarang kita ditelantarkan." (hal. 40)

"PADUAN SUARA PEREMPUAN: ... Penderitaan ini lebih berat dari yang dapat kami tanggung, kami hanya dapat menunggu penderitaan ini berakhir." (hal. 83)

"PADUAN SUARA: Ya, namun apakah harapan menunggu kita di ujung jalan? Atau haruskah kita mati karena putus asa di tengah perjalanan? 

DIEGO: Jangan lagi bicara tentang putus asa! Putus asa adalah sumbat. Dan hari ini guntur harapan dan kilat kebahagiaan memecahkan kebisuan kota yang terkurung ini. Berdirilah, kuminta kamu, dan bertindaklah seperti lelaki! Robeklah aktamu, pecahkan jendela-jendela kantor mereka, tinggalkan ketakutan, dan teriakkan kebebasan kalian ke empat arah angin surga!

PADUAN SUARA: Kami kehilangan hak milik rumah kami dan harapan adalah satu-satunya kekayaan kami--bagaimana kami bisa hidup tanpa harapan?" (hal. 96)


Judul: Sampar 

Penulis: Albert Camus

Penerjemah: Ahmad Asnawi

Penerbit: Narasi (bekerja sama dengan Pustaka Promethea)

Friday, August 14, 2020

Kata-Kata Si Beruang Kutub

Kau perlu menjaga pikiranmu tetap waspada dan berupaya membuka hati kepada mereka di sekelilingmu untuk melihat ribuan nuansa yang menyusun dunia manusia yang senantiasa berubah ini.

Semakin aku memikirkan semua ini, semakin aku yakin betapa luar biasanya untuk bisa hidup itu, bahkan di penjara sekalipun, sebab tak seorang pun bisa merampas kapasitas kita untuk melihat, berpikir, dan bermain. 

- Claudio Orrego Vicuña

Pada sebuah sore di tempat kerja, saya ingat betul ketika diminta untuk memeriksa glosarium sebuah buku. Buku yang akan saya periksa berada di rak buku yang bercampur dengan koleksi pribadi atasan saya. Ketika sedang mencari-cari, saya dipertemukan dengan buku berukuran kecil, berhalaman tipis, dan bersampul gambar wajah beruang kutub yang menyiratkan raut muram. Seketika saya tertarik dengan buku kecil tersebut yang berjudul Kenangan-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub. Ditulis oleh Claudio Orrego Vicuña (1939-1982) yang merupakan sosiolog, peneliti sejarah, penulis, dan aktivis mahasiswa serta bertindak sebagai politisi dan anggota parlemen dari Partai Kristen Demokrat Cile semasa hidupnya. Buku ini adalah satu-satunya karya sastra beliau di antara puluhan buku lainnya. 

Setelah mendapatkan buku yang harus saya periksa, saya minta izin kepada atasan untuk meminjam novel setebal 68 halaman ini. Kumpulan kata ini tidak langsung saya baca karena masuk daftar antrian di antara buku-buku lainnya. Setelah datang gilirannya, ia menjadi kawan yang baik selepas pulang kerja. Menemani dengan rangkaian kalimatnya yang mengingatkan dengan caranya sendiri. Bercerita melalui sudut pandang seekor beruang kutub yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di kebun binatang. Bagaimana ia awalnya mempertanyakan jalan hidup yang semestinya bebas merdeka di padang es arktik, namun harus berakhir di sepetak lahan berjeruji untuk menjadi tontonan manusia. 

Betapa penulis begitu piawai menuturkan suara hati beruang kutub dari gerutu hingga menjadi sebuah kontemplasi yang menyadarkan akan banyak hal. Memberikan makna-makna baru pada hal-hal yang kerap terlewatkan. Menjadi sebuah bacaan yang mencerahkan saat-saat pandemi ini, saat banyak dari umat manusia terperangkap situasi tidak bisa ke mana-mana. Ketakutan, kekhawatiran, dan kesepian seolah tak terelakkan. Beruang kutub yang diberi nama Baltazar ini membagikan pemikiran-pemikirannya, tentang hal-hal kecil sampai yang besar dengan begitu sederhana dan penuh ketulusan. 

Buku pinjaman harus dikembalikan dan oleh karena itu saya akan kesulitan jika ingin menengok kembali kalimat-kalimat yang saya suka. Untuk mempermudah, saya tulis di sini bagian-bagian favorit saya.   

"Aku berubah selamanya menjadi makhluk yang kesepian, dikutuk untuk hidup hanya dengan ditemani pikiran dan nostalgia..." (hal. 14)

"Mengapa ada manusia-manusia yang punya apa saja dan manusia lainnya yang tidak punya apa-apa? Mengapa ada wajah-wajah yang mencerminkan kegembiraan hidup, sementara lainnya kelihatan hanya mendambakan perubahan nasib?" (hal. 19)

"Sepertinya perangainya sudah jamak di kalangan manusia yang diberi kekuasaan. Begitu mereka mendapat kuasa, rasa percaya diri mereka muncul lebih dikarenakan oleh kekuasaan ini ketimbang oleh nilai-nilai dalam diri mereka sendiri.
Aku juga berpikir bahwa semakin tidak bahagia manusia, semakin doyan mereka berlagak memamerkan kekuasaan."
(hal. 25)

"Sepertinya pembawaan alamiah kita memang mengharuskan, sesekali dalam suatu waktu, kesempatan untuk bisa sendirian, tanpa merisaukan apa pun, absen dari dunia sekitar kita." (hal. 29).

"Awalnya aku sangat menderita, dan kenangan akan cintaku yang tak kesampaian membuat penangkapanku jadi kian tak tertanggungkan.
Sekarang situasi sudah berbeda. Waktu menghapus segalanya, dan apa yang menjadi hasrat dan nyala hari kemarin, pada hari ini tak lebih dari ketidakpastian apakah itu nyata atau hanya khayalan anak remaja.
Dari apa yang kulihat dan kupelajari aku memupuk kearifan dan kesabaran, dan kini aku mendambakan kebebasan untuk alasan-alasan lainnya. Tak ada lagi yang bersisa dari cinta lamaku, kecuali ingatan peninggalan sang waktu yang membersitkan senyum, serta gambaran indah dari apa yang mungkin terjadi tapi tidak terjadi.
Toh hal-hal indah dalam hidup tetap menyegarkan meski waktu terus berlalu. Semakin jauh, dan semakin mustahil dijangkau, semakin pula melebur ke dalam aura sentimentil atas segala hal dari masa silam kita, suatu kearifan nostalgis tentang kehidupan.
(hal. 37)

Coba pikir, kau jelas bukan cuma mengalami satu perasaan saja dalam sehari. Juga bukan satu suasana hati saja. Hidup, yang mengejawantah dalam setiap momen, tidak membiarkan kita mengelak darinya segampang itu." (hal. 47)

"Aku tidak pernah bilang bahwa aku pasrah berpuas diri dengan kehidupan di balik jeruji. Lagi pula, Tuhan para beruang tidak mencipta kami untuk itu, melainkan untuk menikmati kebebasan tak terbatas es arktik. Kendati demikian, pada akhirnya aku bisa menemukan kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah kusangka akan bisa kutemukan.
Bukan karena aku merasa demikian. Melainkan karena tak seorang pun yang mau berpasrah menyia-nyiakan hidupnya, terlepas dari duka dan tragedi tak terduga yang menimpa jalan hidupnya."
(hal. 54)
 
 
"Untuk menjadi bebas tidaklah cukup dengan hanya bisa bergerak di atas dunia ini atau di antara orang-orangnya. Bebas bergerak hanyalah sarana untuk menemukan makna yang lebih dalam dari hal ihwal. Tapi itu sendiri belum berarti apa-apa.
Kehidupan sehari-hari gelandangan atau turis sama sekali bukan kebebasan. Kebebasan hanya berasal dari pengertian yang lebih dalam atas tanah-tanah baru, realitas-realitas baru dan orang-orang yang baru ditemui.

Itulah yang menjelaskan mengapa meskipun aku dikerangkeng, aku merasa kebebasanku bertumbuh. Memang masih bolong-bolong dan tak sempurna, tapi setiap hari lebih baik dibanding manusia-manusia di sekelilingku."
(hal. 62) 

 

Judul: Kenangan-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub 

Penulis: Claudio Orrego Vicuñ

Penerjemah: Ronny Agustinus 

Penerbit: Marjin Kiri

Friday, July 17, 2020

Caturwulan

"Anak-anak sekolah memasuki caturwulan yang baru."
Teks seperti ini mungkin sudah jarang mengemuka dua dekade belakangan.
Saat ini, teks yang beredar adalah:
"Anak-anak sekolah memasuki semester yang baru."
Semester yang benar-benar baru.
Sekolah dari rumah karena musibah wabah yang melanda dunia.

Ada banyak yang terjadi selama satu caturwulan belakangan. Pandemi mengubah semua. Bahkan, kehidupan saya yang biasanya datar-datar saja tanpa dinamika yang berarti, empat bulan ini terbilang memiliki fluktuasi yang tak pernah terduga sebelumnya.

Hal-hal yang terjadi dengan saya dan sekitar saya selama pandemi:
  1. Kamar sewa yang telah tiga tahun saya tempati, untuk pertama kalinya, kebanjiran. Air memenuhi kamar dengan tinggi semata kaki orang dewasa. Semua barang yang di lantai basah. Membutuhkan waktu sehari untuk membersihkan ruangan, tetapi butuh seminggu lebih untuk mencuci dan mengeringkan barang-barang.
  2. Kalang kabut mencari kamar sewa yang baru karena selalu cemas setiap hujan datang.  
  3. Penjual makanan di ujung jalan tempat tinggal dikabarkan berpulang karena kena wabah.
  4. Kecemasan meningkat berkali-kali lipat karena tragedi-tragedi tersebut yang berakibat pada semakin giat mencari hunian yang baru.
  5. Ibu saya terpeleset di gang depan rumah dan tangannya patah. Beberapa waktu setelahnya, ayah saya demam. Saya khawatir, tetapi situasi tidak memungkinkan untuk ke rumah.  
  6. Kesulitan mendapat hunian baru yang sesuai ekspektasi. Kegelisahan saya enggan pergi. Sembari mencari yang pas, saya sempat menyewa kamar sementara di dekat kantor. Upaya ini dilakukan agar tidak terus terbebani oleh pikiran yang merongrong jika tetap tinggal di tempat yang lama. Hanya membawa beberapa barang penting saja.
  7. Mulai merawat tanaman hias dengan media tanam air. Kebetulan, kamar sewa saya yang lama memiliki banyak tanaman hias sehingga saya izin kepada pemilik untuk meminta beberapa bibitnya. Aktivitas ini cukup efektif mengurangi ketegangan.
  8. Saat sedang mencicipi granola yang campurannya terdiri dari kacang mete dan/atau almon, mendadak saya sesak nafas untuk beberapa waktu. Sepertinya, ada perubahan pada reaksi tubuh saat mengonsumsi salah satu jenis kacang tersebut. Sebelum-sebelumnya, tidak pernah alergi memakan kacang-kacang tersebut. Sempat dirundung resah karena gejala yang muncul menyerupai gejala penyakit yang berkembang di situasi seperti ini.
  9. Radius mobilitas saya hanya sekitar lima kilometer sejak pandemi. Berkisar pada tempat tinggal, swalayan, dan tempat kerja. Selain kolega kantor, saya tidak pernah bertemu dengan kawan maupun keluarga.
  10. Akhirnya, saya benar-benar pindah tempat tinggal menjadi lebih dekat dengan kantor. Proses pindahan menggunakan jasa angkut yang dipesan lewat aplikasi berlangsung tidak sampai dua jam. Padahal, berkemas semua barang sendirian memakan waktu berhari-hari. Sangat menguras emosi dan fisik sekaligus.
  11. Bunga yang bertahun-tahun saya ketahui berjenis lily, ternyata jenis sebenarnya adalah amarilis, berbunga dengan cantiknya di halaman kamar saya. Memberikan makna baru pada hari-hari yang pelik ini. Insiden berkembangnya bunga ini terbilang langka karena terakhir mekar sekitar dua tahun yang lalu.
Kejadian-kejadian ini membuat emosi saya bergejolak. Marah bergolak tanpa henti. Risau yang tak kunjung pergi. Sedih merundung hari. Ketakutan mencengkeram seperti cakar harimau lapar mengoyak mangsa. Sementara, bahagia hanya datang sesekali untuk merangkul dan memberi kehangatan di tengah musim yang mencekam.

Ada saat di mana saya mencuci tangan terlalu sering sampai lapisan kulit menjadi kering. Ada saat di mana keresahan berlebihan meliputi sampai tidak berkenan bertemu dengan siapapun. Ada saat di mana saya benar-benar sulit mengendalikannya, makan pun jadi kurang berselera, apalagi menjalani kewajiban kerja. Ada saat di mana saya membutuhkan waktu berjam-jam untuk dapat tertidur dengan nyenyak. Ada saat di mana saya bangun dengan kepala yang berat, berat untuk memulai hari.  Ada saat di mana saya hampir menyerah dengan diri saya sendiri.

Inilah nasib hidup berkawan kesepian di rimba ibukota yang tengah paceklik. Mustahil sepertinya mengandalkan teman dengan kondisi yang sama-sama sedang sukar. Hubungan yang terjalin kadang hanya berupa kerja-kerja formal sehingga sungkan untuk meminta bantuan. Atau mungkin saja, saya yang sebenarnya tak punya apa yang orang-orang sebut sebagai teman?

Melihat kembali di sendiri pada saat ini, masih dapat merangkai kata-kata ini, saya cukup bangga dengan diri saya yang sedapat mungkin telah bersusah payah, berjibaku, dan jungkir balik mengelola emosi sehingga masih bertahan dalam melewati hari-hari di tengah pandemi.  

Mungkin, yang bisa dilakukan ya bertahan dari hari ke hari. Mencemaskan masa depan dengan kekhawatiran berlebihan hanya akan mencederai detik-detik yang berharga. Detik-detik yang selayaknya dipetik dengan cermat untuk kemudian kita satukan dalam satuan waktu bernama hari. Carpe diem.

Vaksin terus diuji coba dengan berlapis tahapan
Entah butuh berapa caturwulan sampai benar-benar siap diedarkan
Sementara menunggu, yang kita bisa lakukan adalah sebaik-baiknya bertahan
Semoga umat manusia masih bisa menggantungkan harapan pada keajaiban

Sunday, July 12, 2020

Jalan Kaki

Saat pandemi, sebuah aktivitas yang biasa berubah jadi teramat berat untuk dimulai
Sekadar berjalan kaki, bahkan membutuhkan pertimbangan berhari-hari

Saya sering berjalan kaki saat ingin membeli suatu barang, berangkat ke kedai kopi, atau sepulangnya dari sana. Biasanya, sengaja saya lakukan di sore hari.

Berjalan kaki memberi kesenangan tersendiri. Apalagi jika dilakukan saat petang dengan semilir angin yang sejuk berbalut langit yang teduh. Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan semburat oranye menghiasi cakrawala dengan begitu indah sembari mendengarkan musik kesukaan yang mengalun di telinga.

Aktivitas warga di sore hari memancarkan aura yang lebih positif daripada kegiatan di pagi hari, yang seringnya tergesa-gesa, atau siang hari yang identik dengan terik yang memantik emosi.
 
Kebiasaan berjalan kaki ini sirna sejak pandemi. Ketakutan mencengkeram sehingga mengurung saya untuk tidak berlama-lama berada di luar rumah. Padahal, saya hampir setiap minggu saya menyempatkan diri berjalan kaki sekitar satu jam dan bisa mencapai dua jam jika dibarengi dengan berbelanja banyak keperluan.

Sejak pandemi, saya berada di luar rumah hanya dalam perjalanan menuju ke kantor yang menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit saja. Kantor saya memberikan fasilitas jemput-antar pegawai untuk menjaga keamanan dan kesehatan bersama. Kantor saya memiliki protokol yang cukup ketat sehingga rasanya aman berada di tempat kerja. Saat harus berbelanja, saya akan minta mampir sebentar sewaktu perjalanan berangkat atau pulang kerja. Pernah sesekali mencoba berbelanja di swalayan dekat tempat tinggal saya yang lama, yang jaraknya sekitar lima menit berjalan kaki, setiap langkah terasa berat dan mencekam.

Tepat satu caturwulan, saya tidak berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh dan rentang waktu yang cukup lama. Dalam periode tersebut, saya pindah tempat tinggal dan telah menempatinya sekitar 1,5 bulan. Jarak tempat tinggal dan kantor lebih dekat sehingga sangat bisa dicapai dengan bersepeda atau berjalan kaki. Saya juga menghentikan fasilitas jemput-antar kantor agar bisa melakukan aktivitas menyehatkan tersebut.

Saya pernah coba mengayuh sepeda ke tempat kerja. Jalur menuju kantor yang searah mengharuskan saya melewati pasar yang ramai. Setiap melewati pasar yang ramai akan manusia dan kendaraan, jantung saya berdegup kencang. Takut-takut kalau ada yang tiba-tiba batuk atau bersin di dekat saya. Meski sudah menggunakan helm sepeda dan masker, rasa cemas itu tetap menghantui. Untuk mengatasi hal tersebut, saya akhirnya menggunakan jasa transportasi roda empat yang dipesan lewat aplikasi. Memang biayanya jadi mahal, tetapi hati saya lebih tenang. Bersepeda ke kantor akhirnya hanya satu atau dua kali dalam seminggu.

Setelah sebulan lebih bolak-balik mengeluarkan biaya sendiri untuk transportasi, hitung-hitung biayanya jadi terasa membebani. Saya mulai terpikir untuk berjalan kaki. Jika berjalan kaki, bisa lawan arah dari jalur yang biasa sehingga tidak perlu melewati hiruk pikuk pasar. Mau dimulai sejak awal Juli, hanya saja niat ini selalu diganggu oleh ragu-ragu. Takut ini dan takut itu. Bagaimana jika begini, bagaimana jika begitu.

Sempat terbersit keinginan untuk membeli pelindung wajah terlebih dahulu supaya pikiran dan hati lebih sentosa. Setelah menimbang-nimbang, saya menampik keinginan tersebut. Ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol di jalanan. Jika terus memikirkan hal negatif terus, saya tidak akan memulai prosesi berjalan kaki ini. Kegiatan yang dulu bisa sesuka hati saya lakukan, kapan saja dan di mana saja, sekarang harus dipikirkan matang-matang seperti ingin bertempur ke medan perang.

Kamis lalu sepulang kerja, saya hendak meluncurkan niat berjalan kaki. Hari sudah gelap dan saya memakai sepatu sandal yang kurang nyaman untuk berjalan jauh. Kebetulan sekali, rekan kerja saya yang searah menawarkan tumpangan. Niat berjalan kaki pun tertunda.

Esoknya, saya lebih bersiap dan memberanikan diri. Sepatu kets merah yang sudah empat bulan menganggur, kini bisa terpakai. Sepatu yang nyaman, membuat kaki tidak cepat lelah. Saya memakai baju lengan panjang yang memiliki tudung kepala, ditambah topi hitam, celana panjang, dan pastinya masker. Hand sanitizer disimpan di saku tas yang mudah dijangkau.

Saya berangkat agak siang menjelang Jumatan. Langit teduh dan matahari bersinar ramah. Saya memasang peranti dengar di telinga dan menyetel musik favorit untuk menemani sepanjang perjalanan. Rute menuju kantor terbilang sepi. Sesekali saya berpapasan dengan orang lain, masih takut sebenarnya akan hal ini. Namun, kondisi yang sepi cukup menguntungkan karena saya bisa dengan mudah mengatur jarak dengan orang lain.

Sebelum sampai masjid dekat kantor, saya melihat sebuah tenda kecil dengan dua orang di tepi jalan. Ada bapak-bapak sedang membagi-bagikan makanan. Seorang diantaranya memegang sebuah kertas bertuliskan "OJEG", seorang lainnya bersiap dengan plastik berisi sekotak makan siang. Sebuah angkot mendekati kedua orang tersebut. Sopir angkot disambut senyuman yang tulus dan dengan sigap disuguhkan makanan tersebut. Tidak lama kemudian, datang pengemudi ojek online, keduanya melakukan hal yang sama. Saat saya melewati tenda tersebut, saya kaget karena mereka menawarkan makan siang tersebut kepada saya. Saya menolak dengan halus dan melanjutkan perjalanan.

Seketika saya teringat aktivitas membagikan makanan di pinggir jalan yang ramai di awal pandemi. Beberapa kali saya lihat langsung, saat proses pembagian makanan selalu ada bagian dokumentasi yang sibuk mengabadikan kegiatan tersebut. Mungkin, hal itu dilakukan sebagai laporan kegiatan atau ada tujuan lainnya.

Melihat kedua bapak ini membagikan makanan dengan tulus, hati saya langsung terenyuh. Tak ada petugas dokumentasi yang merekam kebaikan mereka, namun ada banyak saksi yang bahagia melihat kebaikan ini, apalagi yang berkesempatan menerimanya. Masih ada orang-orang yang melakukan hal baik tanpa pamrih.

Aksi berjalan kaki berlangsung hampir setengah jam, terbilang lancar dan cukup berkeringat. Haus menjalar di kerongkongan. Setelah meletakkan tas, saya langsung ambil gelas untuk melepas dahaga. Efek lama tak berolahraga membuat kaki terasa pegal, tetapi tak apa, namanya juga baru pertama setelah berbulan-bulan.

Melalui aktivitas berjalan kaki ini, saya jadi belajar bahwa cemas jangan dijadikan penghalang untuk melakukan sesuatu, tetapi ia bisa diatasi dengan melakukan persiapan yang baik dan tetap waspada. Saya bahagia bisa menghempaskan rasa cemas berlebihan ini dan menghadapinya dengan baik.

Friday, July 10, 2020

Transaksi

Kadang, hubungan saudara hanya sebuah predikat
Bukan sebuah koneksi yang terhubung erat

Rasa kesal dan kecewa menggantung beberapa hari belakangan. Sebuah komunikasi, dengan tujuan transaksi dengan salah satu saudara yang berniaga, sukses membuat saya meradang.

Ia adalah salah satu saudara dari keluarga besar. Kami sebaya dan sama-sama perempuan sehingga cukup dekat semasa sekolah karena tinggal dalam satu wilayah. Beda kota saat berkuliah membuat kami agak jauh. Akan tetapi, komunikasi kami biasanya hangat. Saling bertukar kabar dan bercerita tentang banyak hal saat ada kesempatan berbincang, baik di dunia nyata maupun dunia maya. 

Sekarang, ia sudah menikah dan punya anak. Sudah cukup lama berjualan apa saja secara daring. Kebanyakan perabotan rumah tangga. Baru-baru ini, ia mulai menjual produk perawatan wajah.

Sejak ada fitur story di WhatsApp, saya jadi sering melihat statusnya yang kebanyakan promosi produk-produk yang dijual. Penghujung tahun lalu, saya berminat pada barang yang dipasarkan, panci antilengket dan aksesori telepon genggam. Responnya masih ramah dan cukup baik. Saya hanya membeli barang yang pertama karena yang kedua stoknya sedang habis.

Beberapa bulan setelah itu, saya berminat lagi pada pengeras suara portabel. Iklannya menunjukkan sebuah merk terkenal dengan harga cukup miring. Saya pun memastikan produk tersebut ternyata merk yang dijual berbeda dengan yang diiklankan. Saya akhirnya tidak jadi beli.

Ada suatu hal dari dirinya yang menyebabkan hubungan kami kian renggang. Di suatu waktu di tahun ini, ia dengan lancang memasukan saya ke grup WhatsApp keluarga besar. Sesuatu yang amat saya hindari sejak dulu. Ia memicu amarah saya karena tidak bertanya dahulu apakah saya mau bergabung atau tidak di kelompok percakapan daring tersebut. Segera saya keluar sebelum banyak yang menyadari saya masuk di sana. Langsung saya sampaikan betapa sebalnya saya akan hal ini lalu dia minta maaf.

Hubungan saudara, saya pikir, wajar jika ada perselisihan. Pada akhirnya, akan kembali lagi karena mau tidak mau suatu saat akan bertemu entah kapan dan entah dalam acara keluarga seperti apa.

Sebaran wabah yang tak kunjung mereda mendorong saya untuk menjaga diri dan keluarga. Kebetulan sekali, ia menjual pelindung wajah dengan model yang saya incar. Sehari setelah ia mempromosikan produknya, saya bilang bahwa saya berminat. Sesaat menjelang makan siang, saya menanyakan stok barang tersebut dan apakah bisa diantar langsung ke rumah keluarga saya. Rumahnya dan rumah keluarga saya bisa dibilang berdekatan. Namun, ia mengatakan kalau harus membawa anaknya yang masih kecil, ia tidak berani. Baiklah, pakai jasa antar ojek daring saja.

Saya menduga ketika sudah membicarakan proses pengiriman, barang sudah siap diantar. Eh ternyata, dia masih belum bisa memastikan barangnya ada atau tidak. Informasi terkait stok barang tersebut baru akan ada sore harinya. Baiklah, akan saya tunggu.

Sore harinya, ia mengabarkan bahwa stok barang tersebut habis dan menawarkan barang serupa dengan model yang berbeda. Saya tidak suka dengan model yang ia tawarkan. Namun, dia agak memaksa untuk membeli model tersebut dan malah bikin saya makin sebal. Saya bersikukuh hanya mau membeli model yang saya inginkan. Dengan masih beritikad baik, saya minta dikabari jika model yang saya mau sudah ada stoknya.

Esok paginya, ia menelepon dan mengirim pesan. Kemudian, ia menelepon sekali lagi. Saya dalam keadaan sedang senewen karena kamar sewa saya harus diperbaiki saluran airnya secara mendadak sepagi itu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pihak pengelola kamar sewa juga melakukan aksi gedor-gedor pintu yang sangat mengganggu kenyamanan. Mungkin, ia menghubungi di saat yang tidak tepat juga. Saya mengabaikan teleponnya dan baru membalas pesannya setengah jam kemudian, memberitahukan bahwa saya sudah membeli barang tersebut dari orang lain.

Sesaat setelah ia mengabarkan stok barang habis dan memaksa membeli model lain, saya segera tersadar sesuatu. Biasanya, ketika hendak membeli suatu barang di toko dan barangnya habis, penjual akan meminta maaf terlebih dahulu kepada calon pembeli dan baru kemudian menawarkan alternatif yang lain. Sementara, saudara saya ini tidak meminta maaf sama sekali, yang ada malah memaksa. Setelah kejadian sore itu, saya menelusuri percakapan terkait transaksi-transaksi kami berbulan-bulan sebelumnya. Saya mendapati ia tidak pernah minta maaf saat stok barang yang saya inginkan sedang habis, ia juga tidak minta maaf karena saya telah menunggu lama.

Benar memang apa yang tertulis di kutipan-kutipan yang beredar, yang sulit itu mengucapkan maaf, tolong, dan terima kasih. Kata maaf berada di urutan pertama, mungkin karena kata itu menjadi kata dengan tingkat kesulitan tertinggi untuk diucapkan. 

Responnya yang demikian membuat saya kapok berbelanja barang-barang jualannya. Selain itu, saya mengingat panci antilengket yang pernah saya beli darinya, baru beberapa kali dipakai sudah rusak permukaannya. Bagaimana saya tidak semakin kecewa?

Malam setelah percakapan tersebut berlangsung, saya bergegas mencari barang serupa di sebuah lokapasar daring. Menelusuri rupa-rupa model pelindung wajah sembari membaca ulasan para pembeli, saya menemukan sebuah toko yang terpercaya. Langsung saya beli dua untuk bapak dan ibu di rumah. Gratis ongkos kirim ditambah harganya juga lebih murah. Selang dua hari, ibu saya mengabari kalau barang sudah sampai di kediaman. Praktis tanpa harus melewati percakapan bertele-tele dan menjengkelkan.

Jika kejadian dengannya terjadi di lokapasar daring, mungkin saya sudah mencak-mencak di kolom ulasan penjual dan memberikan bintang satu. Yang bisa saya lakukan hanya menumpahkan keluh kesah belasan alinea, mencapai 700-an kata, di halaman ini.

Setidaknya, hati saya sekarang sudah lebih plong!

Tuesday, July 7, 2020

Tania

Burung boleh berkicau merdu
Angin dan daun berpadu mencipta bunyi yang syahdu
Namun, jika tiada tawa anak gadis itu, semua terasa kelabu

Sekitar sebulan, saya menempati kamar sewa yang baru. Kamarnya cukup besar sehingga beberapa kamar ditempati oleh pasangan dan keluarga muda dengan anak-anak kecil yang sedang gemas-gemasnya.

Sebelah kanan kamar saya, ditinggali oleh keluarga muda dengan dua anak. Satu anak laki-laki berusia antara 4-5 tahun yang sepertinya menjadi si kakak dan si adik yang kira-kira berusia tiga tahun. Terdengar oleh saya bahwa si adik dipanggil dengan nama Tania. Sementara itu, si kakak jarang tersebut namanya. Lebih sering dipanggil dengan sebutan "Kakak" saja.

Kamar kami yang bersebelahan membuat telinga saya menangkap celoteh anak-anak saat mereka meminta sesuatu ke orang tuanya. Ada yang minta makan, minta uang jajan, atau meminta mainan.

Setiap bangun pagi dan sepulang kerja, suara kedua anak ini beserta teman-teman sebayanya menjadi pengisi hari-hari saya yang sunyi. Adapun suara yang dihasilkan dari kamar saya hanya bersumber dari gawai yang memutar lagu atau siniar. Senang rasanya mendengar ada derap langkah balita-balita ini yang terasa begitu ringan sekaligus riang. Tanpa beban. Tanpa terpikirkan cicilan dan masa depan.

Pernah beberapa kali saat saya sedang merawat tanaman, Tania yang kebetulan lewat memperhatikan saya. Saya pun tersenyum kepadanya. Dia membalas dengan senyum tipis. Ingin rasanya berkenalan, tapi saya mengurungkan niat itu. Dikarenakan barang-barang di kamar belum tertata dengan rapi. Saya takut nantinya ia akan sering main ke kamar saya yang masih berantakan. Selain malu, saya khawatir kamar semakin porak poranda.  

Tetangga kecil berambut hitam dengan poni dan berkulit putih bersih seolah ragu sewaktu ingin melangkah di depan kamar saya. Tania sering tampak bingung melihat tetangga barunya ini berkutat dengan tanaman hias di depan kamar. Mungkin, dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang dilakukan manusia ini yang dari tadi hanya mengangkat pot-pot tanaman sambil sesekali berbicara sendiri.

Belum genap sebulan saya bermukim di sini, pekik riang anak-anak ini tidak lagi terdengar. Ada kemungkinan mereka sedang menginap di rumah neneknya yang beberapa kali datang berkunjung. Nenek mereka pernah mengajak ngobrol ketika awal-awal saya pindahan. Ibu paruh baya ini yang memulai duluan dan selanjutnya menjelaskan perihal kamar sewa tanpa diminta.

Di depan kamar tetangga beranak dua ini, biasanya diparkir sepeda roda tiga. Atau beberapa mainan warna-warni yang saya tak ingat betul nama dan bentuknya. Ada yang mencurigakan. Sepeda maupun mainan itu tidak bertengger lagi di sana.

Berhari-hari kamar sebelah hening. Kamar-kamar lainnya memang sejak awal tidak terlalu terdengar aktivitasnya di luar pintu. Berbeda dengan kakak beradik yang hobi bolak-balik di lorong. Melangkah dengan ceria, berteriak dengan lantang, atau merengek jika kemauannya tak dituruti. Kadang-kadang, terdengar suara ibu mereka yang menegur apabila salah satu dari anak-anaknya ada yang berulah. Suara-suara itu kini lenyap berubah jadi senyap.

Selang seminggu dari keheningan itu, saya mendapati kamar mereka terbuka lebar. Lengang. Tiada penghuni. Tiada perlengkapan rumah tangga. Hanya ada perkakas fasilitas kamar sewa seperti kasur dan lemari yang tertinggal. Benar firasat saya selama ini. Mereka pindah. Entah ke mana.

Hari-hari saya kembali berkawan sepi.

Sunday, July 5, 2020

Visitasi

Bagaimana rasanya berbulan-bulan melewati jalur yang sama?
Bagaimana rasanya berbulan-bulan hanya ada tiga tempat yang selalu dikunjungi?
Bagaimana rasanya berbulan-bulan menjalani ritme hidup yang begitu-begitu saja?

Sejak Maret, tingkat kewaspadaan meningkat beribu-ribu kali lipat. Kecemasan menggerogoti hari-hari, menghisap jam tidur, menguras energi. Perlahan-lahan kecemasan menurun, namun tetap dalam mode siaga. Tetap memakai masker, tetap mencuci tangan sehabis memegang apapun, tetap mengantongi botol hand sanitizer, tetap menjaga jarak dengan orang lain, baik yang dikenal apalagi dengan orang asing.

Sejak negara tempat saya berpijak mengumumkan bahwa negeri ini dilanda pandemi, saya tidak berani ke mana-mana. Awalnya, bekerja juga dilakukan dari tempat sendiri. Akan tetapi, lama kelamaan kesendirian ini malah membuat dosis kekhawatiran kian meninggi. Kebetulan, kantor tempat saya bekerja memang memiliki sedikit karyawan dan kami bekerja di ruangan berbeda. Saya akhirnya ditawarkan untuk masuk kantor dengan mendapat fasilitas jemput antar untuk menjaga keamanan dan kesehatan bersama. Protokol kesehatan di kantor juga ketat, seperti wajib cuci tangan sebelum masuk kantor, setiap ada barang masuk disemprot disinfektan, uang kertas juga diperlakukan demikian, hand sanitizer di berbagai sudut, dan wajib pakai masker. Saya malah merasa aman berada di tempat kerja.

Tempat tinggal ke tempat kerja, dan dalam seminggu sekitar satu dua kali ke minimarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Beberapa minggu awal pandemi, saya selalu masak sendiri. Saya sampai tidak berani untuk memesan makanan lewat layanan aplikasi. Saya separanoid itu. Sekitar sebulan setelah mendapat masukan untuk mengecek lewat media sosial apakah tempat makan yang akan saya pesan melaksanakan protokol kesehatan, barulah saya berani memesan makanan dari restoran yang terpercaya. Saya sudah tidak pernah jajan di pinggir jalan.

Selama empat bulan ini, rute saya hanya tempat tinggal - tempat kerja - swalayan dengan radius kurang dari lima kilometer. Berulang terus seperti itu. Saya tidak berani naik kendaraan umum, tidak berani ke tempat teman apalagi ke tempat umum lainnya. Riwayat sakit pernafasan di masa lalu membuat saya rentan dan dicengkeram ketakutan.

Tempat saya bekerja memiliki kantor cabang yang berlokasi di Tangerang. Sejak pertama masuk kerja, saya belum pernah berkunjung ke sana. Padahal, jaraknya hanya berkisar tiga puluh menit saja dari kantor utama.

Jumat pekan lalu, saya berkesempatan melakukan visitasi. Perjalanan dilakukan dengan kendaraan roda dua. Meski memakai helm dan masker, saya masih bisa merasakan semilir angin yang sejuk di perjalanan. Melihat suasana baru yang berbeda dari pemandangan sehari-hari. Menyaksikan pedagang yang dengan sabar menunggu pelanggan, anak-anak kecil yang bermain sepeda dengan riang dan tawa, rimbunan pohon di sisi-sisi jalan, mengagumi aristektur hunian saat melewati sebuah kompleks villa, dan mengagumi langit biru lengkap dengan gumpalan awan putih yang mengiringi kami sepanjang perjalanan. Hati saya senang sekali bisa mengalami suasana yang berbeda dari biasanya.

Setiap detik perjalanan begitu saya resapi baik-baik. Sebuah perjalanan singkat di luar rutinitas harian saya. Memberikan nuansa baru di hati dan pikiran. Rasanya, seperti ke luar dari kepenatan yang menumpuk tidak karuan. Tidak menyangka dengan melakukan kunjungan kerja ini telah membuat saya bahagia. Mungkin, bahagia memang sesederhana ini.